Belajar Wirausaha: Sedikit demi Sedikit Lama-lama Menjadi Bukit

Ilustrasi gambar: teropongbisnis.com
Alhamdulillah, bahwa sebelum kami menikah telah memiliki ide yang sama. Kami berdua sepakat dan ingin memiliki usaha sendiri. Tepatnya usaha pakaian, mulai dari bayi baru lahir sampai orang dewasa. 

Tentunya tanpa alasan mengapa kami memilih bisnis pakaian. Salah satu alasan yang menguatkan adalah, bahwa dulu nabi Muhammad berwirausaha dengan memiliki usaha dagang berupa jual beli kain atau pakaian.  
Alasan yang lainnya adalah, sepanjang penglihatan kami, kebanyakan orang yang memiliki bisnis baju atau pakaian cukup terpandang finansial nya di masyarakat. Dan lebih jauh lagi, menurut pengamatan kami pribadi banyak orang di daerah sekitar kami pun banyak yang sukses berawal dari berbisnis pakaian. 

Bahkan ada yang berpendapat bahwa bisnis pakaian tidak akan basi seperti berjualan kuliner. Hanya saja untuk pakaian wanita, harus sering update fashion. 

Usaha yang kami mulai setelah menikah. Rencana awalnya adalah, modal akan meminjam dari perusahaan di tempat kami bekerja. Tetapi, inilah kebesaran Tuhan yang mengabulkan harapan kami untuk terhindar dari belenggu hutang. Belum sempat kami meminjam modal, terbesit dalam pikiran kami untuk memulai membuka usaha tidak harus langsung besar. Tetapi bisa dimulai dari yang kecil dahulu. 

Bahkan beberapa teman yang telah terjun berbisnis lebih dulu ikut ‘mengamini’ apa yang menjadi pemikiran kami. Dengan membuka usaha yang dimulai dari kecil, kita akan mengerti seperti apa selera dan kebutuhan pasar yang ada di daerah kita. Sehingga modal yang berasal dari gaji bulanan bisa kita arahkan sesuai dengan prospek pelanggan. 

Mengenai masalah ini, saya teringat pepatah bijak: Kita tidak akan bisa menciptakan pasar untuk sebuah produk. Tetapi, kita bisa menciptakan produk untuk pasar. 

Akhirnya pada bulan pertama kami pun berbelanja untuk kulakan barang dagangan dari gaji yang kami peroleh. Dagangan kami simpan dulu di rumah (baca: rumah orang tua dan mertua), karena memang barangnya masih sedikit, belum layak untuk di display dan toko pun belum siap (bahkan belum terpikir sama sekali). 

Begitu pun dengan bulan kedua, kami kulakan dengan gaji yang didapat, kemudian barang disimpan dirumah. Begitu seterusnya hingga dirasa barang sudah banyak dan layak untuk di display. 

Setelah itu, baru kami berfikir masalah toko. Selama kurang lebih satu bulan kami menyiapkan toko. Setelah satu bulan, akhirnya toko pun siap untuk ditempati (diisi) barang dagangan yang semula sudah kami simpan terlebih dahulu di rumah kami. 

Selama berjualan, kami tidak pernah mengambil keuntungan dari toko. Bahkan untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Bahkan yang pasti dan sering, justru gaji bulanan pun ikut masuk ke toko sebagai penambah modal toko. Keuntungan dari toko-pun kami jadikan modal kembali agar supaya barang dagangan kami menjadi lebih banyak. Walhasil, barang dagangan pun semakin banyak. 

Sekali lagi, alhamdulillah. Sekarang toko kami tidak hanya berjualan pakaian saja. Seiring berjalannya waktu, dan bertambahnya modal yang kami miliki, kami pun menambah jenis barang dagangan yang lain. Mulai dari sandal, sepatu maupun tas. 

Akhirnya, semoga tulisan kecil ini bisa memberikan inspirasi bagi yang membacanya. Serta mampu menambah semangat untuk tidak takut dalam berwirausaha. Dan sebagai bukti bahwa saat menjadi karyawan adalah saat yang tepat untuk mulai berwirausaha. Bagi yang masih ragu-ragu memulai usaha, bisa membaca artikel tentang “Miliki Bisnis! Apapun, Walaupun Kecil“.

Subscribe to receive free email updates: