Arti Nilai Dari Sebuah Kejujuran

Dalam keseharian banyak orang yang mengaku sebagai orang pandai. Baik itu pandai dalam hal berfikir, bertindak maupun dalam hal berbicara. Namun, masih bisa dihitung orang yang mampu bertahan dari ujian kejujurannya.

Dimana kepandaian seseorang apabila tidak diimbangi dengan kejujuran, justru akan menjadikan orang tersebut lebih berbahaya. Karena lebih mengetahui dan mampu mencari celah untuk menyembunyikan buah ketidakjujurannya.

Sebaliknya, orang yang jujur namun tidak diimbangi dengan kepintaran, hanya akan menjadi ban serep atau sebagai alas kaki bagi orang yang lebih pandai.

Kejujuran memang harus diperjuangkan, diusahakan. Meskipun bisikan yang tiada henti-hentinya selalu mengajak untuk melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Sekali saja kejujuran itu telah tergadai, maka akan sulit bagi kita untuk mengembalikan rasa yang telah tercederai.

Ingat Nasihat Orangtua

Setiap orang tua, termasuk orangtua kami sejak kecil, mengajarkan kepada kami anak-anaknya agar selalu bersikap jujur. “Nak, jika engkau sedang butuh uang untuk jajan, dan kebetulan di atas meja ada uang. Maka jangan sekali-kali engkau ambil uang tersebut tanpa bilang pada yang punya. Meskipun saat itu kamu sedang sendirian di rumah”, pesan Bapak. “Lebih baik minta sama Bapak. Kalau Bapak ada (uang) pasti akan diberi”, tambah Bapak saya.

Memang bukan seperti itu redaksinya, namun intinya kurang lebih seperti itu.

Sederhana memang. Kami tidak diajari untuk mengambil atau memanfaatkan apa yang bukan hak kami. Meskipun saat itu ada kesempatan untuk mengambil tanpa diketahui oleh orang lain. Namun, yang pasti Tuhan Maha Tahu.

Pesan Bapak tersebut masih terngiang-ngiang di telinga dan akan kami teruskan sampai beranjak dewasa dan beranak pinak.

Disadari atau tidak bahwa nilai kejujuran tidak akan bisa dibayar dengan apapun yang ada di dunia ini. Sekali saja kejujuran itu tergadai, maka sulit bagi kita untuk mendapatkan nilai kejujuran seperti awal mula.

Sekali papan kayu sudah tertancap paku, meskipun paku sudah tercabut dari papan. Namun, masih meninggalkan bekas tancapan paku. Kondisi papan tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti sediakala.
Ibaratnya, karena nila setitik. Rusak susu sebelanga. (Masluh Jamil)

***
Ilustrasi gambar : ubaidi.wordpress.com

Subscribe to receive free email updates: